Berikut adalah sepuluh daftar
paling atas dari bagian di Alkitab, di mana gereja lain tidak bisa menjelaskan
dengan baik tanpa mengadopsi pengajaran dari Gereja Katolik. Daftar ini bisa
diperluas menjadi 20 paling atas, 50 paling atas, atau 100 paling atas, tetapi
daftar 10 ini mencakup banyak hal dan dapat dengan mudah dimengerti sebelum
dilakukan penjelasan ajaran (apologetik) yang lebih luas. Sepuluh daftar paling
atas ini juga menyediakan pengenalan yang sempurna tentang pengajaran Gereja
Katolik sebelum pembaca berusaha untuk mengkonsumsi lebih dari 2000 bagian
Alkitab dan analisa di website ini (http://www.scripturecatholic.com/).
Umat Katolik akan menjadi tahu dalam ayat-ayat ini
sehingga mereka bisa secara efektif bersaksi tentang kebenaran dari Gereja.
Gereja lain harus mengambil ayat-ayat ini secara mendalam sebagaimana mereka
menghadapi tantangan kepercayaan mereka sendiri dan untuk menginvestigasi
ajaran Gereja Katolik.
Tetapi kedua-duanya perlu ingat bahwa apologetik
Katolik bukanlah berbicara tentang benar dan salah. Tetapi tentang berbagi
kepenuhan dari kebenaran yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita melalui
GerejaNya yang Katolik dan Kudus. Kita juga percaya bahwa analisa ayat-ayat ini
dan ayat yang lain di scripturecatholic.com menunjukkan bahwa pemahaman Gereja
Katholik tentang Alkitab hampir selalu didasarkan pada makna literal dari
kata-kata yang digunakan oleh penulis, suatu penafsiran paling layak dari
berbagai cara penafsiran yang ada, dan posisi yang memberikan Yesus kemuliaan
yang tinggi dengan menunjukkan kemurahan hati dan cintaNya yang tanpa batas
kepada kita.
A. Otoritas
I. Matius 16:18-19 / Yesaya 22:22
Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah
Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut
tidak akan menguasainya.
Mat 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.
Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di
dunia ini akan terlepas di sorga.
YES 22:22 Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas
bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup,
tidak ada yang dapat membuka.
Dalam bahasa asli, kata jemaat dalam Mat 16:18 adalah
Gereja (Yunani : Ekklesian/Ekklesia, Inggris KJV : Church). Kebanyakan gereja
lain percaya bahwa "gereja" mengacu pada massa pengikut Kristen
seluruh dunia, yang dengan bebas dihubungkan satu sama lain oleh iman mereka
dalam Alkitab saja. Tetapi ayat ini menunjukkan bahwa "Gereja" yang
didirikan oleh Yesus Kristus bukanlah suatu badan yang tak kelihatan dari
pengikut bebas yang terhubung (loosely-connected), tetapi adalah suatu
institusi yang hirarkis dan kelihatan yang dibangun di atas seseorang, Petrus. Seseorang yang
diberi otoritas tertinggi, suatu badan dengan suksesi dinasti, dan diberikan
ketidak-bersalahan (infallibility). Gereja ini Satu, Kudus, Katolik dan
Apostolik.
Di dalam ayat-ayat ini, kita lihat berikut :
Pertama, Yesus membangun GerejaNya (“ekklesia”) di atas
Petrus. Yesus mengubah nama Simon menjadi Kepha, dan berkata bahwa di atas
"Kepha" ini Ia akan membangun Gereja. Kepha, dalam bahasa Aram
(bahasa di mana Yesus berbicara), berarti suatu bentuk batu karang raksasa, dan
penggunaan Kepha oleh Yesus untuk mengubah nama Petrus menandakan dasar kepemimpinan
di dalam Gereja (lihat juga Mrk. 3:16 dan Yoh. 1:42 di mana Yesus mengubah nama
Simon menjadi "Kefas" yang mana transliterasi dari bahasa Aram
"Kepha"). Hanya Gereja Katolik yang dapat memenuhi dan membuktikan
suatu garis keturunan para pengganti yang tak terputus yang pondasinya adalah
Petrus.
Yang kedua, Yesus mengatakan alam maut tidak pernah
akan menguasai Gereja. Maka meskipun Yesus menugaskan manusia penuh dosa
seperti Petrus untuk memimpin Gereja, Yesus berjanji neraka tidak akan menguasainya.
Karena kuasa neraka mengacu pada yang hal-hal yang supranatural/gaib, ini harus
berarti bahwa Gereja, walaupun dipimpin oleh orang-orang penuh dosa, akan
dilindungi dengan sempurna. Karena Gereja sangat dilindungi, Gereja tidak bisa
membawa orang beriman ke dalam kesalahan supranatural. Jadi, dia tidak bisa
untuk memberi pengajaran yang salah dalam hal iman dan moral. Ketidak-bisa-an
untuk memberi pengajaran yang salah dalam iman dan moral ini disebut
"infallibility" atau ketidak-bersalahan (ini tidak bisa dikaitkan
dengan kesalahan dan kebejatan para pemimpin Gereja, yang mana sudah mengarah
pada "impeccabilas" atau ketidak-celaan). Jika Gereja tidak
infallible, maka kuasa kematian atau alam maut tentu saja akan menjatuhkan
anggotanya yang penuh dosa. Pengajaran Gereja yang konsisten dalam iman dan
moral selama 2000 tahun membuktikan Yesus telah menjaga janjiNya.
Ketiga, Yesus memberi Petrus kunci kerajaan surga.
Sementara banyak gereja lain berpikir bahwa pemberian "kunci" berarti
bahwa Yesus menetapkan Petrus sebagai pelindung dari pintu gerbang surga,
kenyataannya "kunci" tersebut mengacu pada otoritas Petrus atas
Gereja di dunia (yang mana Yesus sering menggambarkannya sebagai "kerajaan
surga." Mat. 13:24-52; 25:1-2; Mrk. 4:26-32; Luk 9:27; 13:19-20, dll.)
Di dalam kerajaan Daudiah (Perjanjian Lama), raja
mempunyai perdana menteri di mana di atas bahunya Tuhan menempatkan kunci dari
kerajaan (Yes 22:22). Dengan cara yang sama, kerajaan Kristus yang baru juga
mempunyai seorang perdana menteri (Petrus dan para penggantinya) yang diberi
kunci kerajaan.
Kunci tidak hanya merepresentasikan otoritas perdana
menteri dalam mengatur jemaat Tuhan dalam ketidakhadiran sang raja, tetapi juga
berarti termasuk rangkaian pergantian perdana menteri (sebagai contoh, di Yes
22:20-22, Eliakim menggantikan Shebna sebagai perdana menteri di dalam kerajaan
Daudiah). Hanya Gereja Katolik yang mengakui dan membuktikan suatu rangkaian
pergantian perdana menteri (paus) sampai dapat dilacak kembali ke Petrus, dan
rangkaian pergantian ini dimudahkan melalui kunci kerajaan.
Akhirnya, Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa apapun
yang ia ikat dan lepaskan di atas bumi akan terikat dan terlepas pula di dalam
surga. Seperti di dalam kerajaan Daudiah, kapan saja Petrus, perdana menteri
membuka, tak seorangpun akan menutup, dan kapan saja ia menutup, tak seorangpun
akan membuka. Yesus, oleh karena itu, memberi Petrus otoritas untuk membuat
keputusan yang akan disahkan di dalam keabadian. Bagi Petrus yang penuh dosa
(dan para penggantinya melalui penyampaian "kunci") untuk membuat
keputusan seperti ini, ia harus dengan sempurna dilindungi. Sekali lagi, ini
membuktikan bahwa Yesus memberikan ketidak-bersalahan (infallibility) kepada
Gereja. Hanya di Gereja Katolik dan yang telah dibuktikan bahwa pengajarannya
selama 2000 tahun dalam iman dan moral yang tidak berubah, infallibility
dinyatakan.
II. 1 Timotius 3:15
1 Tim 3:15 Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau
tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari
Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.
Seperti yang dijelaskan di ayat yang pertama, dalam
bahasa asli, kata jemaat dalam 1 Tim 3:15 inipun mauksudnya adalah Gereja
(Yunani : Ekklesian, Inggris KJV : Church). Kebanyakan gereja lain percaya
bahwa Alkitab menjadi tiang dan pondasi dari kebenaran, dan tidak ada
pengetahuan di luar Alkitab yang diperlukan bagi keselamatan kita. tetapi
kenapa Santo Paulus menulis bahwa Gereja, dan bukan Alkitab, menjadi tiang dan
pondasi dari kebenaran? Ini adalah suatu teks kuat yang menyangkal teori Sola
Scriptura (Hanya dengan Alkitab saja) dari gereja lain, yang mana secara salah
meyakini bahwa Alkitab menjadi satu-satunya sumber kebenaran kekristenan (suatu
teori yang tidak bisa ditemukan di manapun di dalam Alkitab sendiri).
Sementara, Santo Paulus mengatakan Gereja yang menjadi tiang penopang dari
kebenaran.
Ini maksudnya bahwa semua adalah kebenaran, bahwa Yesus
mewarisi kita iman, moral dan keselamatan kita, mengalir melalui suatu Gereja
yang hidup, seperti yang sudah kita pelajari, dibangun oleh Kristus sendiri di
atas batu karang Petrus dan para penggantinya. Seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik,
Tuhan telah memberi kita kebenaranNya dalam wujud firman yang hidup (Alkitab
yang tertulis dan tradisi lisan) dan pengajaran yang hidup dari otoritas
Gereja, yang diwarisi dengan pemberian kekuasaan untuk mengikat dan melepaskan.
Sesungguhnya, ini adalah karena Gereja adalah pondasi kebenaran yang kita
percayai dalam Alkitab. Ini adalah karena Gereja Katolik mengumpulkan Alkitab
menjadi satu kitab dengan menentukan kitab mana adalah diilhami (inspired) oleh
Tuhan dan kitab mana yang tidak. Gereja menyelesaikan pemilihan "kanon
Alkitab" pada akhir abad keempat. Jika Gereja Katolik bukan merupakan
puncak pondasi dari kebenaran, kepercayaan kita akan Alkitab akan tanpa
dasar/pondasi yang kuat.
Kompilasi dari Alkitab oleh Gereja menerangi kesalahan
Sola Scriptura. Seperti yang sudah disinggung di atas, gereja lain biasanya
percaya bahwa Tuhan sudah mewahyukan semua hal yang diperlukan bagi keselamatan
kita melalui Alkitab saja. Sebagai konsekuensi, mereka juga percaya bahwa tidak
ada pengetahuan yang perlu dicari di luar Alkitab mengenai Iman Kristen yang
diperlukan bagi keselamatan kita. Meskipun begitu, pengetahuan kitab-kitab mana
yang menjadi bagian dari Alkitab dan kitab-kitab mana yang tidak adalah sangat
penting bagi keselamatan kita, sebab jika kita tidak mengetahui, kita bisa
terjerumus kepada kesalahan. Lebih lanjut, pengetahuan ini hanya bisa datang
dari Tuhan sebab manusia tidak bisa melihat inspirasi ilahi.
Masalah dalam sola Scriptura, adalah bahwa pengetahuan
tentang yang mana kitab-kitab yang diilhami dan yang mana yang tidak, tidaklah
terdapat di Alkitab. Alkitab tidak mempunyai "daftar isi yang
diilhami". Justru, pengetahuan tentang kanon adalah wahyu dari Tuhan yang
penting bagi keselamatan kita, yang kita terima dari luar Alkitab. Wahyu ini
diberikan kepada Gereja Katolik yang Kudus, dan fakta sejarah dan teologis ini
menghancurkan doktrin Sola Scriptura (menariknya, sementara gereja lain menolak
otoritas Gereja Katolik dalam kebanyakan hal, mereka menerima otoritas Gereja
dalam menentukan kanon Perjanjian Baru).
Jika kita adalah seorang dari gereja lain berusaha
untuk membuktikan doktrin Sola Scriptura, dan di sana adalah ayat yang berkata
"Alkitab menjadi tiang dan penopang dari kebenaran," kita akan
memproklamirkan ayat itu paling atas. Pada waktu yang sama, jika kita adalah
seorang dari gereja lain, kita harus mengabaikan 1Tim 3:15 untuk melanjutkan
protes tentang Iman Katolik.
B. Tradisi
III. 2 Tesalonika 2:15
2 Tes 2:15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah
pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari
kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
2 Tes 2:15 Therefore, brethren, stand fast, and hold
the traditions which ye have been taught, whether by word, or our epistle.
2 Tes 2:15 ara oun adelphoi stêkete kai krateite tas
paradoseis as edidachthête eite dia logou eite di epistolês êmôn
Di dalam Alkitab bahasa Yunani di atas, kata
paradoseon, paradoseis, paradosin yang berdiri sendiri, selalu diterjemahkan
sebagai tradition dalam bahasa inggris. Entah mengapa terjemahan bahasa
Indonesia tidak menulisnya tradisi. Jika Anda mempunyai Alkitab atau Alkitab
elektronik multi bahasa, dapat melihat contoh-contoh lain di Mat 15:2, Mat
15:3, Mat 15:6, Mar 7:3, Mar 7:5, Mar 7:8, Mar 7:9 dan beberapa ayat lagi, yang
mengatakan bahwa kata tersebut berarti tradisi dalam bahasa Indonesia.
Seperti yang sudah kita bahas, gereja lain percaya
bahwa kekristenan akan mengikuti Alkitab saja sebagai sumber Iman Kristen
mereka (Sola Scriptura). Akan tetapi kenapa Paulus memberitahu kita untuk
mengikuti kedua-duanya, yaitu Alkitab dan kata-kata lisan? Tidakkah Paulus
menambahkan sesuatu hal lain untuk diikuti sebagai tambahan dari Alkitab? Ya,
sebab doktrin Sola Scriptura adalah suatu doktrin salah.
Paulus berkata bahwa mematuhi tradisi yang tertulis
(Kitab Suci) tidaklah cukup. Kita harus pula mematuhi tradisi lisan. Ini
menjadi dasar pengajaran bahwa Kristus memberikan kepada para rasul pengajaran
yang tidak tertulis (Rasul Yohanes mengatakan bahwa "dunia ini tidak dapat
memuat semua kitab yang harus ditulis itu, bdk Yoh 21:25”).
Dengan kata lain, ini adalah semuanya yang lain di mana
Gereja memberi pengajaran atas iman dan moral. Kita berterimakasih kepada
tradisi lisan apostolik yang sudah secara pasti mengajarkan kepada kita tentang
Allah Trinitas, dua keadaan Kristus (manusia dan ilahi), persatuan dari keadaan
itu (hypostatic union), Filioque (Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra), dan
kanon kitab suci (kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Alkitab dan yang
tidak). Semua pengajaran ini, dan banyak, banyak lagi yang lain tidak dengan
tegas diajarkan di dalam Alkitab, tetapi secara umum dipercaya oleh semua
kekristenan. Untuk belajar lebih banyak tentang tradisi lisan apostolik, Anda
dapat membeli buku Katekismus Gereja Katolik.
Karena 2 Tesalonika 2:15 sangat mengganggu posisi doktrin
Sola Scriptura, Gereja lain sering membantah bahwa dalam tradisi lisan, Paulus
mengacu, tradisi itu harus berasal dari mulut para rasul. Argumentasi mereka
lebih lanjut adalah bahwa, semua rasul meninggal, kita tidak lagi harus
mengikuti tradisi lisan. Argumentasi ini, bagaimanapun, tidak bisa terbukti
dari kitab suci (yang mana akan mungkin jika Sola Scriptura benar) dan pada
kenyataannya, bertentangan dengan kitab suci sendiri. Sebagai contoh, di 2
Timotius 2:2 di mana Paulus (generasi pertama) menginstruksikan kepada Timotius
(generasi kedua) untuk memberi pengajaran kepada yang lain tentang iman
(generasi ketiga) yang akan bisa memberi pengajaran kepada yang lain juga
generasi keempat). Argumentasi seperti itu juga bertentangan dengan seluruh maksud
tradisi (dalam bahasa Yunani, "paradosis") yang mana berarti
"diterima sampai ditangan" dari satu generasi kepada generasi
berikutnya.
Lebih dari itu, argumentasi gereja lain juga terbantah,
di mana pada saat Gereja memilih Kanon Alkitab. Sementara rasul terakhir
Yohanes meninggal di sekitar tahun 100 M, Alkitab belum selesai dikumpulkan
sampai tahun 397 M. Jadi Gereja diperlukan untuk menjaga tradisi lisan
apostolik selama 300 tahun dalam rangka menentukan surat yang mana yang
diilhami dan surat yang mana yang tidak. Tradisi tentu tidak berasal dari mulut
rasul (mereka sudah meninggal), tetapi dari para pengganti mereka. (Tidak ada
alasan juga untuk menyimpulkan bahwa Gereja perlu/seharusnya mendengarkan
generasi keempat, kelima, atau keenam dari pengganti para pengganti rasul,
tetapi tidak boleh mendengarkan dari para penggantinya di kemudian hari seperti
kita saat ini).
Kita perlu juga catat bahwa tradisi apostolik yang
diperintahkan Paulus kepada kita untuk diikuti di dalam 2 Tesalonika 2:15 tidak
sama dengan tradisi orang Farisi yang dikutuk Yesus di dalam Mat 15:3 dan Mrk
7:9. Tradisi yang dikutuk Yesus mengarah pada peraturan ritual dan tindakan
lain dalam Perjanjian Lama yang kontroversi dengan Perjanjian Baru. Maka ada
tradisi manusia tertentu yang, jika bertentangan dengan Injil, kita harus
menolak, dan tradisi apostolik lisan yang diperintahkan oleh Paulus harus kita
terima.
Satu-satunya argumentasi gereja lain yang dapat dibuat
adalah, sekali Alkitab dikumpulkan dan dikanonisasi, semua tradisi lisan
apostolik sudah masuk dalam Kitab Suci. Sebagai hasilnya, kebutuhan untuk
mengikuti tradisi lisan tidak diperlukan lagi. Tetapi mereka tidak bisa
membuktikan dari Alkitab itu sendiri. Tidak ada di dalam Kitab Suci yang
memerintahkan kita untuk mengikuti tradisi lisan hanya sampai Alkitab
dikumpulkan dan dikanonisasi, dan kemudian mengikuti Alkitab saja (kata
"Alkitab" bahkan tidak ada di Alkitab). Sesungguhnya, Yesus juga
tidak pernah memerintahkan kepada siapapun dari para rasulNya untuk menulis
apapun. Mereka hanya ditugaskan untuk "mengabarkan Injil kepada semua
makhluk, Mat 28:19”. Sebab Kitab Suci adalah firman Tuhan yang hidup yang akan
tetap sama dari kemarin, hari ini dan untuk selamanya (bdk. Ibr 13:10), dan
tidak ada ayat di dalam Kitab Suci yang menentang perintah Paulus dalam 2 Tes
2:15, kita harus pula mematuhi tradisi lisan dari Gereja sebagaimana yang
Paulus perintahkan, atau kita tidak setia kepada Kitab Suci.
C. Baptisan
IV. 1 Petrus 3:21
1 Pet 3:21 Juga kamu sekarang diselamatkan oleh
kiasannya, yaitu baptisan, maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan
jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh
kebangkitan Yesus Kristus.
Kebanyakan gereja lain mengajarkan bahwa baptisan hanya
simbolis dan tidak benar-benar menyelamatkan kita. Mengapa kemudian, Petrus
mengatakan bahwa baptisan itu tentu saja menyelamatkan kita? Sebab baptisan,
tidak seperti yang diajarkan gereja lain, adalah menyelamatkan. Melalui jasa
dari kebangkitan Kristus, baptisan, Sakramen Inisiasi dalam Kristen yang
dimulai oleh Kristus, membersihkan kita dari dosa asal, membuat kita diangkat
menjadi anak-anak Tuhan, dan membawa kita kepada keselamatan.
Tidak seperti yang gereja lain ajarkan, baptis bukan
hanya suatu tindakan simbolis yang berupa penuangan, percikan atau membenamkan
orang ke dalam air (jika tidak, Petrus tidak akan berkata bahwa itu
menyelamatkan kita). Kis 2:38 juga mengatakan hal ini bahwa kita harus bertobat
dan dibaptis untuk pengampunan dosa kita. Pertobatan sudah barang tentu menjadi
syarat keselamatan, dan baptisan merupakan tanda ke-berolehan keselamatan
tersebut. Baptisan bukan hanya suatu pendekatan kepada Tuhan melalui suatu
tanda simbolis. Inilah alasan kenapa Petrus mengatakannya "bukan sebagai
suatu penghapusan kotoran dari badan”. Kebanyakan ahli mengatakan Petrus sedang
mengacu pada khitanan (upacara ritual inisiasi dalam Perjanjian Lama) ketika ia
menulis tentang “penghapusan kotoran dari badan. ”Khitanan adalah suatu isyarat
simbolis di depan Tuhan yang tidak pernah dapat menyelamatkan kita. Tetapi,
paling tidak, Petrus mengajar baptisan itu tidak berkenaan dengan bagian
luar/lahiriah, tetapi bagian dalam dari kehidupan seseorang.
Jadi, Petrus mengajarkan bahwa baptisan itu
menyelamatkan kita “dengan nurani yang bersih”. Ini berkenaan dengan bagian
dalam kehidupan. Dengan cara yang sama, penulis dari Ibr 10:22, dalam
hubungannya dengan pencucian dengan air yang murni (tentang baptis), mengatakan
kita dibasuh dan menjadi “bersih dari nurani yang jahat”. Baptis menghapus dosa
asal yang menggelapkan nurani kita. Ini memurnikan bagian dalam dari kehidupan
seseorang. Baptis bukan hanya suatu eksternal, simbolis, upacara tanda/isyarat,
(jika tidak, para penulis yang kudus tidak akan menulis tentang pemurnian dari
nurani, di mana dosa dilahirkan).
Jadi, melalui kebangkitan Kristus, sekarang baptisan
benar-benar menyelamatkan hidup rohani kita, sama halnya perahu nabi Nuh (yang
mana Petrus mengatakan baptisan "sesuai dengan") yang menyelamatkan
hidup keluarganya. Di dalam baptisan, kita dicuci bersih dari dosa asal dan
menjadi anak angkat laki-laki dan perempuan dari Bapa. Inilah alasan kenapa
Paulus menulis kepada Titus, mengenai baptisan, yaitu “Dia menyelamatkan kita
dengan rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang
dikerjakan oleh Roh Kudus, yang mana Dia menuangkannya kepada kita dengan
melimpah melalui Yesus Kristus, sedemikian sehingga kita dibenarkan oleh
rahmatNya dan menjadi pewaris hidup abadi.” (Tit 3:5-7). Paulus menguatkan
pengajaran Petrus bahwa baptisan itu menyelamatkan kita dengan pembaharuan
bagian dalam hidup kita, yakni, jiwa kita, yang mana kini diwarisi dengan
keilahian Tuhan dan rahmat penyucian. Jadi kita menjadi anak-anak Tuhan dan
mewarisi kerajaanNya.
Hanya Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa baptisan,
berdasarkan atas jasa Kristus dan pelaksanaannya kepada kita, adalah
menyelamatkan. Gereja lain, bertentangan dengan 1 Pet 3:21 (dan Titus 3:5-7;
Yoh 3:5; dan Ibr 10:22) memberi pengajaran baptisan itu hanya simbolis. Dalam
pelaksanaannya, Gereja Katolik melakukan persiapan yang cukup panjang untuk
calon baptis (katekumen), karena menyadari bahwa baptisan adalah sesuatu yang
sakral. Baptisan, karena merupakan meterai penyelamatan, harus benar-benar dipersiapkan
oleh calon baptis dalam hal pemahaman ajaran Gereja Katolik, dan tentunya
adalah pertobatan.
No comments:
Post a Comment